Ceramah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW
Yang disampaikan Di kampung Babakan Parung
Hari Selasa 15 Februari 2011
Assalamualaikum. Wr.Wb
اَلحَمْدُ ِللهِ الَّذِى هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُناَّ لِنَهْتَدِيَ لَوْلاَ اَنْ هَدَانَا الله, نَسْتَعِيْـنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِالله ُفَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمِن يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ الله, اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلهَ اِلاّالله ُوَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَاشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحِسَانِ إِلَى يَوْمِ الْمِيْعَادِ. اَمَّا بَعْدُ.
قال الله تعالى فى القران الكريم:
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم.
فَقَالَ تَعَالىَ: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىِّ يَااَيُّهَـاالّذِيْنَ اَمَنُوْ صَـلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْاتَسْلِيْمًا.
وقال تعالى ايضا :
لقد كان لكم فى رسول الله اسوة حسنة لمن كان يرجوا الله واليوم الاخر وذكرالله كثيرا
وقال رسول الله:
انما بعثت لاتمم مكارم الاخلاق
Hadirin yang berbahagia tak terasa kita telah berada di bulan mauled, betapa getar kerinduan kita begitu besar kita rasakan, betapa ingin rasanya kita dapat menatap wajahnya, dan dapat memeluk dirinya, setiap hari, setiap waktu, setiap detik kita sebut nama Beliau seiring kita menyebut dzat yang maha agung, pencipta dan kekasih manusia yang paling agung akhlaqnya. “tidaklah aku diutus kecuali untuk memperbaiki akhlaq manusia. Itulah pernyataan Rosululloh untuk mempertegas betapa pentingnya akhlaq bagi seluruh umat manusia.
Namun bagaimanakah dengan kondisi actual sekarang? Akhlaq terpinggirkan. Para pemimpin gampang berbohong dan ingkar janji, sangat kontras dengan misi utama Roasululloh SAW.
Pernahkan Rosululloh berbohong? Pernahkah Beliau berkhianat? Pernahkah namanya ternoda? Pernahkah Beliau membuka aib seseorang?. Adakah seseorang yang dianiaya oleh Beliau? Adakah janji yang dilanggar Beliau? Adakah silaturahim yang diputuskan oleh Beliau? Adakah Beliau lari dari tanggungjawab yang dibebankan di pundak Beliau? Adakah perikemanusiaan yang Beliau abaikan? Pernahkah Beliau menghina seseorang, atau menyakiti dengan lidahnya?
Tugas kerosulan yang Beliau pikul sangatlah berat di tengah masyarakat tanpa akhlaq, masyarakat tanpa rasa malu. Tetapi Beliau tetap bertahan dengan kegigihan yang tak pernah kendur dan kecintaan yang tak pernah pudar.
Sepanjang jalan kehidupan dan setelah Beliau sampai ke puncaknya, sekali-kali Beliau tidak berusaha untuk merebut nama, kedudukan atau pun harta. Ketika semuanya dating kepada Beliau dan terikat pada tiang-tiang bendera yang berkibar jaya. Beliau menolaknya, dan sampai saatnya yang akhir, beliau tetap hidup sebagai pribadi yang sholeh, tekun beribadah dan jauh dari gemerlapnya duniawi.
Sepanjang hidup nya, tak seujung rambut pun Beliau bergeser dari tujuan hidupnya yang mulia, dan tak pernah sedikit pun Belieu melanggar ikrarnya kepada Allah SWT. Belum lagi lagi dating sepertiga yang akhir dari malam, Beliau bangkit berdiri, berwudhu, dan bermunajat kepada Allah, lalu sholat sambil menangis. Sungguh teladan yang paripurna.
Puji-pujian kepada beliau akan selalu bergema sepanjang masa, kenikmatan dan keagung akan selalu tambahkan kepada diri Beliau, dan tak secuil pun hinaan, maupun serangan kepada Beliau akan mengurangi kemulian dan kesempurnaan Beliau, tidak sekali-kali pun tidak. Walau karihal musyrikun…walau karihal munafiqun. Allahumma Sholi wa sallim ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
Saat ini kita sedang berada pada suatu jaman yang penuh dengan permasalahan. Telah bercampur antara yang hak dan yang batil, bercampur antara mutiara dan lumpur, bercampur antara permata dan kotoran, antara ulama dan orang-orang keji. Zaman yang telah dipenuhi oleh orang-orang yang hanya pandai berpidato, zaman yang di dalamnya orang-orang bodoh menjadi panutan, kehormatan tidak lagi dihiraukan dan kesenangan duniawi menjadi Tuhan dan tujuan.
Orang-orang pembangkang dan tukang maksiat kepada Tuhannya dianggap sebagai penyeru kebenaran, orang-orang awam dijadikan pegangan dan rujukan dalam permasalahan agama, orang-orang bodoh dijadikan sebagai pemimpin sedangkan tokoh yang juhud pada dunia, ulama-ulama yang hanya memikirkan umat, dan hanya mencari kerdhoaan Allah Ta’ala, para sholihi, para kekasih-kekasih Allah dianggap sebagai orang yang bodoh lagi pandir.
Adalah Malik Muzhaffar Abu Sa’id Kaukaburi bin Zainuddin Al-baktatin, adalah tokoh yang pertama kali mengadakan peringatan mauled manusia agung yaitu Nabi Muhammad SAW. Belaiu mencoba membangkitkan kembali ruh semangat perjuangan dalam tubuh umat Islam, membangun kembali dalm diri umat Islam jiwa tauhid, keimanan dan ketaqwaan dengan mengingatkan kembali perjuangan seorang tokoh manusia yang agung, sebaik-baik mahluk, dan kekasih Allah yang utama. Hasilnya tak bias dipungkiri Umat Islam memperoleh kemenanan yang gilang gemilang di bawah panglima Sholahuddin Al-Ayyubi dalam menghancurkan serdadu-serdadu kufar dalam perang salib. Kecintaan kepada Allah dan RosulNya begitu besar memenuhi kalbu umat Islam, mengalahkan asyiknya kehidupan dunia walau begitu manisnya. Keiikhlasan jiwa yang begitu mencintai Allah dan Rosulnya, teraplikasi dalam kegiatan mereka yang takut kepada Allah hingga meninggalkan segala laranganNya dan mengikuti segala perintahNya, dan ikhlas mengikuti sunah-sunah yang ditetapkan oleh Allah dan RosulNya.
Tahukah kita, kekalahan umat Islam di Cordoba, berapa abad setelah wafatnya Sholauddin Al-Ayyubi ? Umat Islam telah meninggal bersiwak, sunnah Rosululloh. Kalu yang kecil, remeh dan mudah saja, telah ditinggalkan, bagaimana dengan sunnah-sunnah Rosululloh yang lain, ang lebih besar dan lebih sulit.
Kemudian pada abad ke 14 H, muncullah sekelompok orang yang mengajak dan menyeru untuk berpegang teguh kepada Kitab dan Sunnah Nabi SAW. Sungguh seruan dan ajakan yang baik jika saja seruan itu benar dan penuh ke insyafan. Namun setelah masyaraka awam tertarik dengan ajakan mereka, mereka mengajak oar4ng-orang itu dengan sekuat tenaga dan tekad yang kuat kepada ajaran yang sama sekali tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW.
Mereka mengharamkan ziarah kubur, termasuk kubur Nabi SAW, melarang bertawasul dengan nabi-Nabi dan orang-orang Shalih, melarang membaca doa bersama-sama setelah sholat fardhu, dan sebagainya.
Dan salahsatu seruan yang mereka lakukan adalah melarang peringatan Maulid Nabi SAW. Mereka menyebut peringatan Maulid sebagai bidah yang sesat dan menuduh pelakunya dengan segala keburukan dan kehinaan. Bahkan sebagian mereka menyatakan, peringatan mauled adalah perbuatan syirik dan pelakunya adalah musyrik. Bagi kalangan muhibbin, penuntut ilmu, dan kaum muslimin pada umumnya, yang ingin senantiasa berada pada jalan salafus sholih yang lurus, ulama sholihin, para awliyaillah, yang selalu memenuhi hati mereka dengan kerinduan kepada Rosululloh SAW dan selalu meneladani keindahan akhlaq Beliau yang sempurna, jauh dari saling mencela, terlebih dari saling mengkafirkan.
Disyariatkannya Maulid
Ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa yang dikatakan ulama tentang peringatan Maulid Nabi SAW dengan tata cara yang sudah termasyhur selama ini. Dalam kitab Kalimah Hadi’ah fi al-ihtifal bi al-Maulid, karya Al-Allamah Dr. Umar Abdul Kamil, disimpulkan pendapat para ulama tentang makna mauled yaitu:
Majelis taqqarub kepada Allah SWT yang berisikan pembacaan berapa ayat Al-Qur’an, pembacaan sejarah kehidupan Nabi, dan gambaran kepribadian Beliau yang agung, Sholawat kepada Nabi, do’a dan permohonan, dan diakhiri dengan pemberian suguhan makanan.