Ceramah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW
Yang disampaikan Di MT. Assyabab Mampang
Hari Minggu 20 Maret 2011
اَلحَمْدُ لِلّهِ نَسْتَعِيْـنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِالله ُفَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمِن يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ الله, اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلهَ اِلاّالله ُوَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَاشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحِسَانِ إِلَى يَوْمِ الْمِيْعَادِ. اَمَّا بَعْدُ.
قال الله تعالى فى القران الكريم:
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم
قل ان كنتم تحبون الله فاتبعونى يحببكم الله ويغفرلكم ذنوبكم والله غفور رحيم
وقال نبي صلى الله عليه واله والسلم:
من عظم مولدى كنت شفيعاله يوم القيامة. ومن انفق درحمـا فى مولدى فكانما انفق جبلا من ذهب فى سبيل الله.
Hadrotil mukarram wa muhtarom para alim ulama, para kiai, para asatidzah, para hujaj, dan para tokoh masyarakat. Wa bil khusus orang tua kita, guru kita bersama, Adda’I ilallah wa Rosulih, mujahid fi sabilillah, Al-Habib …….…………., serta para asatidz, para kiai yang sama-sama kita hormati, dan saya tidak sebutkan satu-persatu, tetapi tidak mengurangi hormat dan ta’zim saya, semoga selalu dimuliakan oleh Allah SWT.
Dan wabil khusus untuk Shohibul Maulidurrosul, saudara saya, temen seperjuangan saya, yang telah mengundang saya untuk hadir pada tempat yang penuh barokah ini, dan keluarga besar orang tua saya, yang semoga Allah terima segala amal ibadah, Allah terangi akan kuburnya, dan Allah jadikan kuburnya Roudhoh min riyadhil jannah. Dan seluruh jamaah, panitia peringatan Maulid Nabi, dan Bapak-Ibu muhibbin lillah wa rosulih, yang juga mudah-mudahan selalu dimuliakan oleh Allah SWT. Amin.
Alhamdulillah, hari ini, di malam hari yang cerah ini, kita berada pada tempat yang penuh barokah ini. Karena malam ini kita bersama Rosululloh, malam ini kita bersama Habibullah, dalam rangka memperingati kelahiran Beliau, kelahiran junjungan alam, Nabi Besar Muhammad SAW. Karena kelahiran beliau merupakan nikmat yang paling besar, merupakan puncak kenikmatan yang dirasakan khusus bagi umat manusia akhir zaman, da khusus bagi yang terpilih sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Beliau Sang pembawa peringatan, Sang pembawa kabar gembira. Beliau mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, membuka mata yang buta, membuka telinga yang tuli, serta menggugah hati nurani yang lalai. Dengan adanya Nabi Muhammad, Alhamdulillah kita tidak salah memilih Tuhan, kita tidak slah memilih agama, kita tidak salah memilih jalan, kita menjadi seorang mukmin dan mukminah. Beliau mengajarkan kita akhlaq, sehingga kita menjadi mahluk yang terpuji dan dipuji oleh Allah, Beliau menjadikan kita menjadi mahluk yang beradab dan bermartabat, sehingga kita pantas menduduki jabatan sebagai khalifah di muka bumi ini.
Tak terhitung banyaknya manusia yang terangkat derajatnya berkat kehadiran beliau, berkat kedudukan Beliau di sisi Tuhannya. Salahsatu contoh karunia yang tak ternilai harganya adalah, bahwa apa yang dibawa Nabi, telah mengangkat harkat derajat kaum wanita dari sejarah kelam umat manusia yang telah menghinakan mereka. Salahsatu contohnya adalah, darajat seorang ibu yang diletakkan dalam kedudukan yang amat mulia, baik dihadapan anaknya, suaminya, maupun keluarga besarnya. Tak terhitung jumlah kenikmatan yang telah diberikan Allah kepada kita Sebab kelahiran Beliau.
Nabi Muhammad SAW lahir pada era jahiliyah, era di mana kerusakan dan kegelapan telah benar-benar menyelimuti muka bumi. Kejahatan, kebodohan, dan kedzaliman merajalela di seluruh penjuru bumi. Tamsil yang bisa kita bayangkan saat itu, sebagai contoh jika seorang suami meninggal, istrinya juga akan dikuburkan pula bersama jasad sang suami, bahkan tidak jarang seorang istri dibakar hidup-hidup setelah kematian sang suami. Bahakan perilaku mereka saat itu telah melebihi perilaku binatang sekalipun. Di semenanjung Arab, para bayi perempuan yang lahir akan dikubur hidup-hidup. Alasan mereka melakukan hal biadab tersebut, mereka kuatir jikalau anak perempuan tersebut kelak akan membuat aib bagi keluarganya.
Kalau ditanyakan apakah ada nilai-nilai luhur yang berkembang pada masyarakat seperti itu ? maka jawabnanya adalah ada. Akan tetapi nilai-nilai luhur yang masih terdapat dalam kehidupan mereka tidak didasari dengan nilai-nilai ajaran agama, hingga yang terjadi dari keputusan-keputusan mereka, selalu berada di tangan orang-orang zalim, kebijakan dan kebijaksanaan mereka, selalu ada di tangan orang-orang batil.
Bapak, Ibu, hadirin Rohimakumullah, bagaimana dengan keadaan sekarang, ketikia banyak keputusan, kebijakan dan kebijaksanaan tidak di dasarkan pada nilai-nilai agama?
Ini PR dari saya mohon di jawab di rumah ajha nanti.
Di tengah-tengah keadaan yang seperti itulah, Allah SWT memberikan anugrahNya yang teragung bagi zaman dan seluruh penduduk bumi tanpa terkecuali, yaitu dengan lahirnya seorang Sayyidul Mursalin wa khotamun Nabiyyin, Sayyidina wa Maulana Muhammad SAW.
Baginda Nabi Muhammad SAW adalah penyampai wahyu dari Allah SWT kepada seluruh alam. Nabi Muhammad SAW tidak hanya di utus untuk segolongan manusia saja, namun Nabi Muhammad SAW datang untuk menyeru alam kepada keagungan dan kebesaran Allah SWT, serta menyeru umat manusia untuk masuk ke dalam agama Allah SWT.
Tugas kerosulan yang Beliau pikul sangatlah berat di tengah masyarakat tanpa akhlaq, masyarakat tanpa rasa malu. Tetapi Beliau tetap bertahan dengan kegigihan yang tak pernah kendur dan kecintaan yang tak pernah pudar.
Allah SWT berfirman:
“Sungguh telah datang kepadamu seorang rosul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami. Dia sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, penyantung dan penyayang terhadap orang-orang beriman” (Attaubah ayat 128)
Dialah Rosululloh SAW, rahmat yang menjadi anugrah. Dia telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan memberikan nasihat kepada umat. Dia berjihad di jalan Allah hingga ajal datang menjemput. Dia tidak pernah berbicara kecuali kebenaran, dan tidak pernah melakukan sesuatu kecuali kebaikan. Akhlaqnyaindah disertau kharisma yang berwibawa dan perangai yang menyantuni. Dialah rahmat yang dihadiahkan kepada umat ini.
Sepanjang hidup nya, tak seujung rambut pun Beliau bergeser dari tujuan hidupnya yang mulia, dan tak pernah sedikit pun Belieu melanggar ikrarnya kepada Allah SWT. Belum lagi lagi datang sepertiga yang akhir dari malam, Beliau bangkit berdiri, berwudhu, dan bermunajat kepada Allah, lalu sholat sambil menangis. Sungguh teladan yang paripurna.
“Sungguh telah ada pada diri Rosululloh suatu contoh yang baik”
Dalam Kitab Simtuduror karangan Al-Alamah Al-Habib Ali Bin Husen Al-habsyi, kelahiran dan keadaan beliau pun begitu indah digambarkan dalam syairnya:
Ya Laqolbin….
Maasyirol hadirin Rohimakumullah
Kini kita telah berada pada bulan di mana Rosululloh dilahirkan. Bagaimana keadaan hati-hati kita dalam mencintai nabi Muhammad SAW? Sudah meningkat rasa cinta kita kepada beliau? Apakah Rosululloh sudah kita cintai melebihi cinta kepada diri kita, dan melebihi cinta kita kepada mahluk apapun? Apabila disebut nama beliau, sudahkah hati kita bergetar, dan memendam rasa rindu yang teramat sangat? Sudahkan beliau kita jadikan tonggak perilaku kita dalam kehidupan kita sehari-hari?.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Tidak beriman seorang di antara kalian sebelum kecintaan terhadap diriku melebihi kecintaannya terhadap dirinya sendiri”.
Wahai pencinta Rasululloh, perhatikanlah ucapan beliau ini. Rasululloh menafikan keimanan seseorang apabila kecintaannya terhadap Nabi Muhammad SAW belum melebihi kecintaannya terhadap diri dirinya sendiri.
Disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa Rasululloh mengaminkan doa yang dibacakan oleh malaikat Jibril. Saat itu Baginda Rosululloh SAW berada di atas mimbar. Doa malaikat Jibril kala itu adalah: “Semoga Allah menjauhkan rahmatNya, bagi siapa-siapa yang apabila disebutkan namamu kepadanya, namun orang itu tidak bersholawat kepadamu. Aminkan doa ini wahai kekasih Allah Muhammad.!” Nabi pun mengatakan Amin. Kenapa malaikat Jibril berdoa seperti itu? Apakah sebabnya semua ini?
Perhatikan…!
Kita disunnahkan mengucapkan Rhodiyallahu anhu apabila disebutkan nama sahabat Rasululloh SAW. Namun tidak berdosa apabila tidak melakukannya. Kita juga disunnahkan menyebutkan Alayhissallam ketika disebutkan nama-nama Nabi sebelum Rasululloh SAW. Namun juga tidak berdosa kalau tidak melakukannya. Begitu juga ketika kita disebutkan nama Allah, kita disunnahkan untuk membesarkannya dengan mengatakan Azza wa Jalla atau mengucapkan Subhanallah wa Ta’ala, atau mengatakan Jalla Jalaluhu. Namun tidak dijanjikan sanksi amuapun siksa bagi siapa yang tidak berbuat demikian.
Namun akan dijanjikan sebuah sanksi yang berat, kepada siapa-siapa yang tidak bersholawath ketika nama beliau Muhammad SAW disebutkan. Apakah yang menjadi hal ini sehingga begitu istimewanya baginda nabi Muhammad.? Sebabnya adalah, karena beliau merupakan washilah, antara kita dan hubungan kita dengan sang pencipta yaitu Allah Jalla jalaluhu.
“Sekikir-kikirnya manusia di sisi Allah, jika disebutkan di sisinya namaku, dia tidak mengucapkan sholawath bagiku”
Maka termasuk suatu kesalahan yang amat besar dan sungguh fatal, apabila kita mengatakan “cukup kita mencintai Allah saja”. Atau sebagian dari mereka mengatakan ”Haruskah kita melewati pintu Rasululloh? Ketahuilah, bahwa kami akan langsung menuju Allah tanpa perantara siapa pun.”
Sungguh, sungguh suatu kesalahan yang amat besar dan sungguh fatal.
Allah SWT berfirman:
“Katakanlah Wahai Muhammad, jikalau kalian mencintai Allah, maka ikutikah jalanku (yaitu jalan Nabi Muhammad SAW), niscaya Allah akan mencintai kalian, dan mengampuni segala dosa-dosa yang telah kalian perbuat”.
Maka hubungan dengan Allah SWT akan terjadi sebab hubungan kita dengan Rasululloh, yaitu dengan mengikuti dan meneladani Nabi Muhammad. SAW. Barometernya adalah hadits Nabi yang artinya;
“Seseorang tidak dapat dikatakan beriman sebelum kecintaannya terhadap diriku melebihi kecintaannya terhadap diri sendiri”.
Tujuan dari perayaan mauled tersebut adalah menanamkan dalam hati kita rasa cinta terhadap Nabi Muhammad SAW. Memperdalam hakikat cinta kepada nabi Muhammad SAW. Menyadarkan betapa pentingnya mengikuti sunnah beliau, dan betapa pentingnya mengucapkan salam dan sholawath kepada beliau. Menggali terhadap apa-apa yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW. Lebih dekat mengenal sosok beliau, dan masih banyak lagi aspek-aspek yang dapat kita gali dari peringatan kelahiran beliau.
Karena sesungguhnya Ujian yang sebenarnya dari cinta kepada Rosululloh SAW adalah sejauhmana kedekatan seseorang dengan ajaran-ajarannya, kepedulian terhadap ajaran-ajarannya, serta perhatian akan sunnah-sunnahnya.
Cinta kepada Rosululloh SAW adalah ukuran keimanan. Maka barang siapa ingin menguji kadar keimanannya, hendaklah ia merasakan seberapa besar kecintaaannya kepada Nabi Besar Muhammad SAW, junjungan kita. Apakah ia mencintai dengan cinta sejati dan sempurna? Apakah ia mencintainya lebih dari cinta kepada hartanya? Melebihi cinta kepada putranya, atau bahkan lebih dari cinta kepada dirinya sendiri
Kita memuji Allah, yang telah memuliakan kita dengan karunia ini dan telah mengistimewakan kita dengan manusia terbaik yang pernah ada. Dia telah mengutus bagi kita mahluk yang termulia di sisiNya. Dialah pemimpin para rosul, seorang yang jujur, pemberi petunjuk, dan seorang yang terpercaya, penutup para Nabi dan Rosul.
Maka tidak diragukan lagi Rosululloh Muhammad SAW adalah anugrah yang paling agung yang Allah limpahkan untuk umat ini, dialah penutup para Nabi dan rosul, dan Allah menyaksikan baginya bahwa ia benar-benar berakhlaq yang luhur.
“dan sesungguhnya engkau benar-benar berakhlaq yang luhur” (Al-Qolam ayat 4)
Beliau dipuji oleh Allah SWT karena akhlaqnya. Beliau dijadikan pemimpin seluruh manusia kerana akhlaqnya. Dan seluruh alam simpatik kepada beliau karena akhlaq dan perangainya yang terpuji. Maka dengan perayaan mauled ini kita menjadikan Rasululloh sebagai contoh dan teladan dalam segala hal.
Maasyirol hadirin Rohimakumullah
Rasululloh SAW datang sebagai penutup bagi semua risalah samawi, jadi beliau adalah penutup para Nabi dan rosul. Beliau telah diangkat menjadi Nabi ketika Adam masih berupa tanah. Rasululloh bersabda:
“Sesungguhnya aku hamba Allah yang merupakan penutup para Nabi ketika Adam masih berupa tanah” (HR. Ahmad Alhakim dan Ibn Hibban)
Dan dalam firman Allah Taala :
“Muhammad itu bukanlah Bapak seseorang di antara kamu, tetapi ia adalah Rasululloh dan penutup para Nabi, dan Maha mengetahui segala sesuatu” (Al-Ahzab ayat 40)
Jadi bukan bermakna cincin para Nabi sebagaimana yang diungkapkan oleh orang-orang kafir.untuk mengartikan perkataan khotama harus melihat sambungan-sambungan dari perkataan itu. Umpamanya, mari saya misalkan:
- Kalau saya katakana “Labisal khotam” maka artinya memakai cincin
- Kalau dikatakan “khotamul kitab” maka artinya menamatkan kitab
- Kalau dikatakan “husnul khotimah” artinya kesudahan umur yang baik.
- Kalau dikatakan “khotamun nabiyyin” maka tidak ada arti lain kecuali penutup para nabi.
Maka janggal sekali kalau dikatakan bahwa Nabi Muhammad itu adalah “cincin para Nabi” apa artinya itu? Pendeknya tafsir kaum qodiyani laknatullah alayhi adalah tafsir omong kosong dan tidak berdasarkan hadits-hadits Nabi.
Banyak sekali hadits-hadits Nabi yang memperkuat bahwa tidak ada Nabi setelah Baginda nabi Muhammad SAW, yang dapat saya kutif sebagai berikut:
“Bani Israil diperintah oleh Nabi-Nabi. Setiap wafat Nabi lantas diganti oleh Nabi yang lain, tetapi sesudah saya tidak ada lagi Nabi”. (HR. Bukhori)
Dalam hadits yang lain Rosululloh bersabda:
“Akan ada pendusta 30 orang, semuanya mengaku Nabi, dan aku adalah Nabi penghabisan tidak ada lagi Naqbi sesudahku”. (HR. Tirmidzi)
Dan berbicara kasus ahmadiyah yang terjadi di Indonesia sekarang ini, Kasus ini adalah rentetan panjang. Yang mana kalau terjadi kasus-kasus semacam ini Islam selalu diposisikan sebagai tertuduh satu-satunya. Dan sekelompok orang dari dalam umat Islam sendiri tampaknya senang Islam jadikan tertuduh.
Yang jelas masalahnya makin kemana-mana, bahkan bisa menambah rasa umat yang selama ini menahan diri lantaran keyakinan agamanya ternista oleh sekelompok umpan kemarahan sebagiannya.
Siapa yang tidak marah, saya pun marah, lantaran marah juga pertanda Iman danh Islam masih bersemi. Bagi yang tidak marah, berarti keimanannya sudah mati. Namun Islam melarang pelampiasan amarah yang membabi buta. Di laga sepakbola pun sering jatuh korban, tapi kalau berkaitan dengan Islam, mereka yang merasa Islam pun menyalahi keislamannya. Ini kan aneh.
Pandeglang maupun daerah yang lain, tidak akan membara kalau kelompok Ahmadiyah laknatullah pun tidak mengumpan kemarahan, pemerintah pun harus bersikap tegas, Indonesia memang bukan Pakistan, tetapi Islam adalah mayoritas, masa tidak mampu belajar dari Pakistan, mengambil sesuatu yang baik demi kemaslahatan mayoritas dan terjaganya minoritas, jadi bukan masalah berasaskan Islam atau tidak.
Yang dianut ahmadiyah itu bukan ajaran Islam. Islam sudah final tidak ada Nabi terakhir kecuali Nabi Muhammad SAW. Kalau ada yang mengakui Nabi selain Nabi Muhammad maka itu bukan Islam.
Ahmadiyah Harus Keluar dari Islam
Dalam Halaqoh Ulama Se-Jawa dan Madura yang digelar oleh Majelis Silaturrahim Pengasuh Pondok Pesantren Indonesia. Di Ponpes Sidogiri. Tiga rekomendasi dikeluarkan dalam forum tersebut, rekomendasi itu adalah:
- Kepada Pemerintah untuk segera membubarkan Ahmadiyah
- Melarang segala bentuk penyebaran dan kegiatan ajaran ahmadiyah
- Melarang penggunaan atribut Islam dalam segala macam aktivitas Ahmadiyah.
Ahmadiyah ada dua macam. Pertama, aliran yang dikenal dengan sebutan Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) ini adalah gerakan aliran Lahore yang menganggap mirza ghulam ahmad hanya sebagai mujaddid, bukan seorang Nabi.
Yang Kedua, adalah Ahmadiyah Qodian, di Indonesia dikenal kelompok di bawah naungan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Kelompok ini meyakini bahwa mirza ghulam ahmad sebagai nabi setelah Nabi Muhammad SAW.
Maka tanpa perlu ragu-ragu kita harus menganggap bahwa paham yang dibawakan oleh JAI adalah sesat dan menyesatkan dan bertentangan dengan faham umat Islam yang menganut ASWAJA.
Yang memang perlu kita garis bawahi, bahwa tindakan kekerasan terhadap ahmadiyah justru bisa kontraproduktif, karena bisa menguntungkan pihak ahmadiyah, yang terkesan selalu dizolimi. Fatwa MUI itu juga doianggap penzaliman terhadap ahmadiyah. Padahal kalau mau jujur yang melakukan kekerasan, memvonis kapir, memvonis sesat, justru datang dari ahmadiyah sendiri.
Secara logika begini:
Ahmadiyah meyakini ada nabi stelah Baginda Nabi Muhammad, apa mungkin orang yang meyakini kenabian seseorang, membiarkan orang lain tidak mempercayai, atau mencuekin nabi baru itu. Maka secara logika, pastilah mereka berusaha untuk meyakinkan orang supaya beriman kepada nabi yang baru itu. Demikian juga, kalau tidak percaya, ada konsekuensi yang akan menimpanya. Maka orang yang tidak percaya mereka sebut sebagai kafir.
Dari beberapa literature ahmadiyah ada kalimat yang mengkafirkan kita:
Man kaana yu’minu bi Musa wa lam yu’ minu bi Isa fahua kafir, wa man kaana yu’ minu bi Isa wa lam yu’ minu bi Muhammadin fahuwa kafir, wa man kaana yu’minu bi Muhammadin wa lam yu’minu bil masih al maw’ud mirza ghulam ahmad fahuwa kafir gholikun fil kufri.
Ajaran mirza ghulam ahmad laknatullah alayh yang lain adalah:
- Melarang menikah dengan non-ahmadiyah
- Mereka juga tidak boleh diimani oleh orang non-ahmadiyah
Inilah memang yang terlontar dari mulut dan tulisan orang ahmadiyah sendiri. Kenapa mereka tidak menyebutkannya, karena jelas tidak menguntungkan mereka. Nah kalau ahmadiyah sekarang tidak pernah mengngkapkan pendiriannya itu, itu karena mereka masih kecil . tapi jika suatu saat nanti mereka sudah kuat dengan komunitasnya yang selalu eksklusif seperti di Manislor Bogor akan lain ceritanya. Kalau sudah menguasai suatu wilayah, mereka akan berani terus terang menilai tentang kita. Maka kalau mau adil sorot tindakan mereka kepada kita, jangan selalu tindakan kita kepada mereka.
Dari segi ajaran mereka, jelas bagi kita, ajaran yang meyakini adanya nabi baru setelah Muhammad SAW tidak bias dibenarkan, kendati tidak membawa syariat baru. Sebab, untuk apa Allah mengutus nabi baru kalau tidak membawa syariat baru. Jadi tidak ada tawar-menawar lagi tentang nubuwah Muhammad, sebagai nubuwah terakhir.
Dulu, misalanya, ada LDII yang dianggap eksklusif, sekarang ternyata mereka terbuka sekali dan bias menjalin kerjasama dengan umat Islam yang lain. Karena LDII dengan kita tidak ada perbedaan yang prinsipil terhadap masalah aqidah, Tuhannya sama, Nabinya pun sama, dan keyakinan tentang nubuwah pun sama. Beda dengan dengan ahmadiyah, kita berbeda dengan aqidah dengan mereka.
Peran Negara
Tugas Negara dalam Islam bukan sekjedar mengatur urusan dunia, tapi juga mengatur urusan akhirat atau keagamaan. Apalagi kalau urusan agama itu menyangkut masalah ketertiban dan menjaga dari hal yang menimbulkan keresahan, atau gejolak di masyarakat. Maka kewajiban Negara untuk turun tangan mengaturnya.
Kalau ahmadiyah ingin aman dari kejaran FPI atau ormas Islam lainnya, ahmadiyah harus menyatakan diri keluar dari Islam dan bertindak atas nama dirinya sendiri. Kalau tidak mau Negara wajib melindungi agama lain dari penistaan dan penodaan oleh kelompok lain. Dan ahmadiyah harus dibubarkan.
Maasyirol hadirin Rohimakumullah
Datangnya bulan mauled, maka secara otomatis hiduplah rasa kecintaan kita terhadap Rasululloh SAW. Namun hal itu janganlah hanya sehari dalam setahun. Dalam hal ini saya pribadi sependapat dengan saudara-saudara kita yang mengatakan bahwa tidak harus mengadakan peringatan mauled hanya pada satu malam dalam setahun.
Dapat kita katakana kepada mereka: “Iya memang benar pendapat anda, dan kita ucapkan terimakasih”. Apa yang dikatakan oleh mereka adalah benar. Justru kita harus merayakan mauled Nabi Muhammad SAW sepanjang tahun, sepanjang hari, sepanjang waktu, dan sepanjang nafas kita dalam kehidupan ini. Dan yang terpenting adalah kita lebih dituntut untuk menghidupkan tujuan dari diadakannya peringatan mauled itu sendiri. Hari ini peringatan mauled, semalam peringatan mauled, dan esok pun juga peringatan mauled. Tujuannya hanyalah satu, yaitu kita jadikan Rasululloh SAW selalu berada di dalam hati kita.
Maka ketahuilah saudara-saudaraku yang enggak suka mauled…maaf juga untuk ahmadiyah kalau ente bukan saudara ane…kita hanya satu bangsa saja.
Kecintaan itu tidak mungkin dapat tumbuh subur di dalam hati kita, kecuali dengan adanya sebuah ikatan. Maka salahsatu yang menjadi ikatan antara kita dengan Nabi Muhammad SAW adalah dengan adanya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Maka teruskanlah dan hidupkanlah peringatan Maulid Nabi dalam hti kita, dalam diri kita, dalam kehidupan kita, dalam rumahtangga kita, dan dalam masyarakat lingkungan kita.
Dengan adanya peringatan mauled, kita kembali mengawali komitmen kita terhadap dakwah Islam dalam hati kita, jiwa serta sanubari kita. Adakah di antara kita yang sadar tentang perkara dakwah dalam setiap individu kita? Mulai dari sholat, puasa zakat, haji serta amalan-amalan yang lainnya? Begitu juga apakah kita menyadari bahwa kita juga sebagai pembawa dan pelanjut Risalah suci Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan dan didakwahkan kepada orang lain? Dan apakah kita telah menyadarkan dan mengingatkan diri kita dan orang lain dari perbuatan-perbuatan yang dimurkai oleh Allah SWT?
Ingatlah…bahwa kita adalah umat Nabi yang pada malam hari kelahirannya telah berjatuhan berhala-berhala yang ada di muka bumi. Namun yang menjadi pertanyaan, mengapa dalam diri kita masih terdapat berhala-berhala yang terus kita pelihara? Padahal, sudah seharusnya berhala-berhala tersebut kita hancurkan , kita robohkan dan kita buang dari dalam diri kita. Berhala-berhala itu berupa kecintaan yang berlebihan terhadap dunia.
Pada malam kelahiran Nabi SAW, setan-setan dilempari dengan batu-batu oleh para malaikat. Hal ini menunjukkan bahwa setan adalah musuh yang nyata. Tapi sebagian dari kita tidakmau melempari dirinya untuk membuang setan dalam diri mereka sendiri, berupa kesombongan dan keangkuhan merasa diri paling benar.
Maka hendaknya marilah kita selalu memohon taufiq dan petunjuk kepada Allah untuk diri kita, keluarga kerabat, serta umat ini secara keseluruhan.
Wassalamualaikum. WR. Wb