Persaudaraan Muslim

Khutbah Jumat

Dikhutbahkan Pada Tanggal 22, 29 April 2011

Assalamualaikum. WR. Wb

اَلحَمْدُ لِلّهِ ربِّ العالمين وبه نستعين على اُمُوْرِ الدّنيا والدين والصّلاة والسلام على اشرف الانبياء والمرسلين وعلى اله واصحابه ومن تبعه بإحسان الى يوم الدّين . اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلهَ اِلاّالله ُوَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ المَلِكُ الحقِ المبين, وَاشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الذى بلغ الرسالة وادى الأمنة ونصح الأمة وجاهد فى الله حقّ جهده ولا نبى بعده  . اَمَّا بَعْدُ.

فيا عبادالله اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَىاللهِ فقد فازَ المُـتَّقُون.ويَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ .

قال الله تعالى فى القران الكريم:

 اعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم.

اِنَّمَا المُؤْمِنُ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوْااللهَ لَعَلَكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Jamaah Sholat Jumat Rohimakumullah

Alhamdulillah segala Puji bagi Allah Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Pemurah, Yang Maha pemberi, Yang Maha memberi rezeki, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dzat yang telah menolong para hambanya berbuat kebaikan, dan Dzat yang menolong para hambanya terhindar dari berbuat keburukan. Kita memuji Allah dan mengitiqodkan segala perbuatan kita dengan niat yang ikhlas, semata-mata mengharapkan keridhoan Allah SWT semata. Semoga Allah jadikan diri kita bagian dari golongan hamba-hamba yang saalik, hamba yang tak henti-hentinya mencari jalan kepada jalannya Allah Ta’ala.

Sholawat dan Salam semoga Allah Ta’ala selalu limpahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW seorang kekasih pembawa anugrah bagi setiap manusia, yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, beserta keluarganya, para Sahabatnya dan para pengikutnya.

Pada Khutbah ini, tidak lupa saya mengingatkan kepada seluruh jamaah, dan terkhusus pada diri khotib, agar kita senantiasa mempertebal keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan sekuat tenaga dan pikiran kita, dalam melaksanakan apa pun yang diperintahkanNya, dan sekuat tenaga dan pikiran pula untuk meninggalkan segala apa pun yang dilarangNya .

Jamaah Sholat Jumat Rohimakumullah

Dalam upaya meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, marilah kita tingkatkan pembinaan di dalam persaudaraan muslim di antara kita. Dengan harapan, semoga terwujud kesatuan umat yang kuat dan tangguh hingga mempu menghadapi berbagai persoalan. Telah sering kita saksikan kepedihan dari sejarah panjang peradaban kaum muslimin yang mendera umat mereka selama ini, karena lemahnya persaudaraan dan persatuan. Alangkah sedihnya nasib umat, akibat redupnya persaudaraan, kemudian kita asyik dengan diri kita sendiri, kita asyik dengan golongan kita sendiri, hingga mata hati kita menjadi buta untuk melihat dan mendengar jeritan saudara kita yang tercabik dan terhina dari permainan keji orang-orang kafir.

Ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan muslim adalah aset yang tak ternilai harganya, adalah aset untuk membangun peradaban dan kemajuan umat. Persatuan dan kesatuan yang dibangun atas persaudaraan, merupakan bagian terpenting dalam sejarah perkembangan Islam. Dengan semangat persatuan tersebut Daulah Islam pada masa pemerintahan Nabi Muhammad SAW dapat dibangun. Kokohnya persatuan dan kesatuan umat yang diwujudkan dalam semangat ukhuwah Islamiyah, tak dapat dipungkiri melahirkan kekuatan yang besar dan dahsyat.

قال تعالى: وإِنَّ هذِهِ اُمَّتــُكُمْ اُمَّةً وَاحِدَةً

“Sesungguhnya Agama tauhid ini adalah kamu semua, agama yang satu”

وقال النّبِى ص.م : المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالبُنـْـيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضاً

“Sesungguhnya orang mukmin dengan orang mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan, yang satu bagiannya menguatkan bagian yang lainnya”.

Tapi mengapa masalah ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan muslim ini selalu dikemukakan? Karena disadari atau tidak, kita tentu maklum, bahwa apa yang disebut dengan ukhuwah Islamiyah, Ummatan Wahidah, atau ummatan kaljasadil wahid, tidak lebih sebagai obsesi yang nyaris tak terwujud. Dalam kenyataan hidup sehari-hari, anjuran dan penegasan mengenai persaudaraan muslim masih sebatas penyampaian dalam mimbar-mimbar dakwah, masih sebatas disampaikan dalam forum-forum musyawarah.

Sulit rasanya menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, kalau umat Islam masih bangga hidup di dalam terkotak-kotak. Ada yang hanya karena berbeda kelompok pengajian, hanya karena berbeda guru ngaji, atau perbedaan kitab yang dikaji, lalu memasang kuda-kuda untuk siap “berperang”. Kata-kata usang seperti bid’ah membid’ahkan, kafir-mengkafirkan, syirik-mensyirikkan mudah meluncur keluar dari lidah seseorang atau sekelompok muslim yang ditujukan pada muslim yang lain, hanya karena mungkin berbeda paham, hanya karena mungkin berbeda pola pikir tentang ajaran Islam, hingga merasa dirinya dan kelompoknyalah yang paling sah, yang paling benar, dan merasa paling berhak masuk surga. Padahal sama-sama meyakini Allah adalah Tuhannya Yang Esa, Islam adalah agama yang paling benar dan menjadi agamanya, dan Muhammad SAW adalah Nabinya, yang tidak ada lagi Nabi dan Rosul setelahnya.

Bahkan ada di antara mereka dan kelompok mereka, merasa berhak menumpahkan darah saudara mereka sendiri, dengan dalih yang tidak jelas, atau bahkan dijadikan alasan sebagai korban dari perjuangan mereka. Benarkah ini yang diajarkan Al-Quran, benarkah ini ajaran yang dituntun oleh Rosululloh..?

Jamaah Sholat Jumat Rohimakumullah

Islam sangat menganjurkan persatuan dan mengecam perpecahan, hal itu bahkan ditegas Allah dalam Al-Quran Surah Al-Imron ayat 103, Allah berfirman:

وَاعْتَصِمُوْ بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَّلاَ تَفَرَقُوأ…

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…”

وقال تعالى ايضا: اِنَّمَا المُؤْمِنُ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوْااللهَ لَعَلَكُمْ تُرْحَمُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Al-Hujarat: ayat 10)

Islam sangat membenci perpecahan dan perselisihan, sampai-sampai Rasululloh memerintahkan kepada orang yang sedang membaca Al-Quran agar menghentikan bacaannya apabila bacaannya itu akan mengakibatkan perpecahan. Rasululloh SAW bersabda:

“bacalah Al-Qur’an selama bacaan itu dapat menyatukan hati kalian. Tapi, bila kalian berselisih, hentikanlah bacaan itu (HR Imam Bukhori dan Muslim).

Rasululloh SAW mengajarkan untuk tidak menyakiti sesama muslim, baik dengan perkataan maupun perbuatan, bertawadhu kepada sesama muslim, tidak menyombongkan diri dihadapannya, tidak menggunjing dirinya dan menggunjing orang lain di hadapannya, dan juga tidak mendengar gunjingannya. Rosululloh melarang untuk saling bermusuhan sesama muslim, bahkan haram darahnya, hartanya maupu kehormatannya.

لاَ تَحَاسَدُوْ, وَلاَتَناَجَسُوا, وَلاَتَباَغَضُوا, وَلاَتَدَابَرُوا, وَلاَيَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلىَ بَيْعِ بَعْضَ, وَكُونـُوا عِبَادَالله اِخْوَاناً. المُسْلِمُ اَخُو المُسْلِمِ, لاَ يَظْلِمُه, وَلاَ يَخْذُلُه, وَلاَ يَحْقِرُهُ, التَّقْوَى هَاهُناَ-وَيَشِيْرُ الى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَراَتٍ- بِحَسْبِ اِمّرِءِ مِنَ الشَّرِّ اَنْ يَحْقِرَ اَخَاهُ المُسْلِم, كُلُ المُسْلِم عَلىَ المُسْلِم حَرَامٌ: دَمُهُ, وَمَالُهُ, وَ عِرْضُهُ. اخرجه المسلم

“Janganlah kamu saling hasud, jangan saling mencari- cari kesalahan, jangan saling marah, janganlah saling membelakangi, dan janganlah diantara kamu menawar apa yang telah ditawar oleh yang lain, jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, tidak menzoliminya, tidak mengecewakannya, tidak menghinakannya. Taqwa itu di sini, menunjuk Rosululloh kepada dadanya sebanyak tiga kali. Cukuplah sebuah perkara disebut kejahatan, seorang muslim menghina saudaranya. Setiap muslim atas muslim yang lain haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim)

Jamaah Sholat Jumat Rohimakumullah

Konsep Islam telah jelas disampaikan Allah SWT lewat Baginda Rosululloh SAW, akan tetapi mengapa perselisihan yang mengancam persaudaraan muslim itu masih saja terjadi?

Di antara sebabnya adalah, pertama, faktor atau unsur khilafiyah, umat Islam masih lebih mementingkan persoalan-persoalan kecil dari pada persolan utama. Kita cenderung mempermasalahkan problem yang tidak prinsipil daripada problem yang mendesak untuk diselesaikan, kita terlalu mengedepankan hal-hal yang khilafiyah, dibanding mengedepankan pendalaman aqidah, keadilan, persatuan dan kesatuan umat.

Sebab yang kedua, adalah unsur keduniawian, kita terlalu mementingkan urusan duniawi sedangkan urusan ukhrowi selalu kita belakangkan. Sehingga segala cara pandang kita selalu kita nilai dengan materi, lebih-lebih kalau berkaitan dengan faktor politis kekuasaan. Maka ketahuilah, terjadinya kisah tragis Padang Karbala yang menjadi lembaran hitam sejarah umat Islam, yang menjadi sebuah malapetaka terbesar umat Islam. Penyebabnya adalah karena unsur politis ini.

Faktor ketiga, berkaitan dengan dua faktor sebelumnya, disadari atau tidak, kita hanya menjadi permainan oleh orang-orang yang tidak suka dengan Islam, mereka berbuat untuk mengacaukan Islam, dan menghancurkan Islam dari dalam tubuh mereka sendiri. Timbulnya paham-paham sesat adalah salahsatu grand master planning mereka, media televisi yang kini menjadi syetan yang masuk ke dalam rumah kita, adalah salahsatu grand planning mereka. Sayangnya kita malah menikmati, mengiyakan, bahkan mengikuti permainan mereka.

Ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mengaktualkan jiwa dan semangat Ukhuwah Islamiyah. Salahsatunya adalah mengembangkan dan mempertahankan perilaku salamatush shadr, sifat lapang dada dalam menghadapi dinamika hidup di dunia ini. Maka ketika terjadi perbedaan pemahaman, tidak serta merta kita menganggap bahwa hanya diri kita yang benar, dan pihak yang berbeda adalah pihak yang salah. Apabila ini dapat diwujudkan, persaudaraan Islam bukan lagi sebuah isapan jempol belaka.

Selain itu, kita kembangkan semangat tasamuh (toleransi), atau semangat bertoleransi terhadap saudara sendiri, serta terbuka untuk melakukan dan menerima tausiyah untuk saling mengingatkan. Selanjutnya mengembangkan sikap husnudzhon di antara kita, sebuah sikap dari tingkatan dasar yang menggambarkan kebersihan hati kita.

يَااَيُهَاالّذِيْنَ اَمَنُوا اِجْتَنِبُوا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِّ, إنّ بَعْضَ الظّنّ اِثْمُ وَلاَتَجَسَّــسُوْ وَلاَ يَغْتَبْبَعْضُكُمْ بَعْضَ…

“Hai orang-orang beriman, Jauhilah banyak berburuk sangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain… (Al-Hujarat Ayat 12)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبِّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَِّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.